Yulizal Yunus: Membidani Lahirnya Dewan Kebudayaan Sumatera Barat

yulizalyunus, 22 Jan 2020, PDF
Share w.App T.Me
INDONESIASATU.CO.ID:

OPINI - Sumatera Barat dalam pemajuan kebudayaan membutuhkan kelembagaan kebudayaan sejenis Dewan Kebudayan Sumatera Barat (WANBUD-SB). Dari study banding Dinas Kebudayaan (Disbud) Sumbar, 26 November 2019 ke Desa/ Kelurahan Budayanya Panggungharjo yang kaya cerita komunitas desa budaya dan calon world heritage dari Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), dikesankan bahwa, ternyata DIY mempunyai Dewan Kebudayaan (DK-DIY) dan turut berfungsi mengantarkan DIY ini menempati urutan No.1 (yang semula dipertanyakan bagaimana pengalaman DIY) pada peringkat IPK (Indek Pembangunan Kebudayaan) Nasional, menyusul Bali No.2, rasa tak sebanding dengan Sumbar pada urut No.15. Karenanya Dewan Kebudayaan (DK- DIY) itu sudah menjadi bagian amanat Perda Istimewa DIY No.3 Tahun 2017 tentang Pemeliharaan dan Pengembangan Kebudayaan, mengingat amanat UU No.5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.

Belajar dari pengalaman DIY dalam pemajuan kebudayaan itu, maka dapat dipahami mengapa banyak kalangan memandang urgen WANBUD-SB yang diimpikan itu ada. Padangan dan pertanyaan vocal point itu tidak saja muncul dari masyarakat budaya dan budayawan, tetapi juga dari pemerintahan (Pemda dan DPRD) terutama sejak lembaga besar dan bergengsi di Sumatera Barat dahulu yakni Dewan Kesenian Sumatera Barat (DKSB) telah mati suri yang kemudian mati total.

Sebenarnya Pemdaprov Sumbar kehilangan kemitraan kelembagaan kebudaya sejak Dewan Kesenian Sumatera Barat (DKSB) mati total. Gubernur Irwan Prayitno sejak sebelumnya berupaya menyelamatkan lembaga itu ketika sedang mati suri. Upaya penyelamatannya Gubernur mengeluarkan dua kali surat tugas bagi budayawan, pertama tim-14 dan kedua tim-9. Tim ditugaskan untuk mengadakan musyawarah konsolidasi program dan pergantian pengurus, ternyata tim representasi budayawan itu tidak berdaya melaksanakan tugasnya. Bukan karena tak ada dana tetapi ada persilangan kayu ditungku yang tidak terselesaikan. 

Sekarang kebutuhan Pemprov Sumbar terhadap adanya WANBUD-SB itu lebih dirasakan sejak berdirinya Dinas Kebudayaan Sumatera Barat 2016 dan sejak keluarnya UU Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. WANBUD-SB itu berpotensi menjadi tongkatan utama mitra Pemdaprov dalam pemajuan kebudayaan. Justeru daerah ini corenya kebudayaan yang kaya genius Minangkabau dengan filosofinya ABS-SBK (Syara’ Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah).

Pengalaman Disbud DIY terekplisit bahwa Dewan Kebudayaan (DK-DIY) diposisikan Gubernurnya menjadi lembaga sangat penting. Menjadi telinga dan mata Keistimewaan Pemda DIY sekaligus menjadi Penasehat Gubernur menjadikan kebudayaan roh pembangunan di DIY. Karenanya, disebutkan Dinas Kebudayaan DIY, bahwa DK-DIY mesti hadir dalam semua denyut nadi peristiwa kebudayaan masyarakatnya. Justru infomasi dan pemikiran konseptual pemeliharaan dan pengembangan kebudayaan dari DK-DIY kepada Gubernur mesti akurat dan penting, karena Gubernur juga mempunyai mata telinga yang banyak memberikan laporan dan pemikiran, adalah sebuah tantangan DK-DIY itu.

Karena itu pula keberadaan DK-DIY diposisikan dalam Perda Istimewa DIY No.3/ 2017 Bagian IV, Pasal 30 amat penting dalam pemeliharaan dan pengembangan kebudayaan DIY. Tugasnya diatur dalam dua bidang, (1) bidang pertimbangan kebudayaan dan (2) bidang kuratorial kebudayan DIY. Kedua bidang ini meliput dua Komite: (1) Komite Objek Kebudayaan Tak Benda dan (2) Komite Objek Kebudayaan Benda. Rekrut  selektif SDM untuk Bidang Pertimbangan DK-DIY terdiri dari unsur pemerintahan daerah, kesultanan, kadipaten, akademisi dan masyarakat. Sedangkan rektur selektif SDM untuk Bidang Kuratorial DK-DIY terdiri dari unsur praktisi, kademisi, seniman dan budayawan. Masa jabatannya ditetapkan 3 tahun dan dapat dipilih kembali untuk masa jabatannya kedua kali, di-SK-kan oleh Gubernur DIY. Untuk pengaturan fungsi dan peranan DK-DIY diatur dalam Peraturan Gubernur DIY.  

“Ambiak contoh ka nan sudah, ambiak tuah ka nan manang”, penting kita contoh ka nan sudah dan tuah kanan manang di DIY, segera kita bidani lahirnya WANBUD-SB bagi pemajuan kebudayaan Sumatera Barat. Justru suara ini telah muncul vokal sejak tahun lalu dari masyarakat budaya, budayawan praktisi, seniman, Pemrov dan DPRD (Pemerintahan) Sumatera Barat dan akademisi. Hal itu dikatakan Gemala Ranti Kadisbud yang memimpin study banding pemajuan kebudayaan ke DIY yang terdiri dari unsur pemerintahan, budayawan (seniman) dan akademisi, 25-27 November 2019.

Akademisi Prof. Dr. Nursyirwan Effendi, anggota tim studi banding Dsibud, guru besar antropologi yang sasran studinya focus kebudayaan menggarisbawahi Kadisbud dan berfikir, bahwa Dewan Kebudayaan dengan contoh dari DIY ini, patut oleh semua pihak segera membantu perumusannya kearah lahirnya WANBUD-SB. Justru WANBUD ini efektif diperankan Pemdaprov menjadikan kebudayaan sebagai roh pembangunan daerah yang sudah mencanangkan visi-misi pertamanya ABS-SBK. Bawa-sertalah semua unsure. Pemdaprov di garda terdepan Disbud. Diikuti akademisi, tokoh masyarakat budaya, budayawan, praktisi, seniman dan parapihak lainnya. Berdirinya WANBUD-SB ITU segera disusul proses legislasi drafting Perda Pemajuan Kebudayaan Sumatera Barat, yang Naskah Akademiknya dalam catatan penulis sudah selesai dua tahun lalu, disusun oleh Tim Disbud dari unsur Perguruan Tinggi (UIN, UNP, UBH dan UNAND) yang diketuai Dr.Hasanuddin.

Ayo bersama kita dirikan WANBUD-SB itu. Kita bersama memfunsikannya dilegalisasi dengan Perdaprov sumbar sebagai mitra kuat dan mata telinga pemajuan kebudayaan Pemdaprov Sumatera Barat dalam pemeliharaan dan pengembangan pemajuan kebudayaan di Sumatera Barat. Justru sudah sejak lama dari pengamatan masyarakat budaya termasuk dari pemda dan beberapa anggota DPRD Sumbar) itu, Pemdaprov Sumbar tidak memiliki mita seimbang pemajuan kebudayaan khususnya dan pembangunan pada umumnya. Sebenarnya ada cukup lembaga masyarkat, namun yang ada itu resistensinya tinggi, terngiang suara itu dari beberapa anggota dewan dan pemdaprov.

Padang, 22 Januari 2020

Dr. Yulizal Yunus
Akademisi dan Pemerhati Adat Minangkabau


 

PT. Jurnalis Indonesia Satu

Kantor Redaksi: JAKARTA - Jl. Terusan I Gusti Ngurah Rai, Ruko Warna Warni No.7 Pondok Kopi Jakarta Timur 13460

Kantor Redaksi: CIPUTAT - Jl. Ibnu Khaldun I No 2 RT 001 RW 006 Kel Pisangan Kec Ciputat Timur (Depan Kampus UIN Jakarta)

+62 (021) 221.06.700

(+62821) 2381 3986

jurnalisindonesiasatu@gmail.com

Redaksi. Pedoman Siber.
Kode Perilaku.

Mitra Kami
Subscribe situs kami
Media Group IndonesiaSatu